Friday, 25 December 2009

Conservative

Hari ini sudah siang. Mungkin sudah hampir sore, tapi dia masih berada di depan laptop kesayangannya. Tapi kali ini dia tidak berada ditempat biasanya, dia sekarang berada di sebuah taman. Walaupun tempat ini lebih cocok sebagai tempat sapi dan kambing memuaskan nafsu makannya yang tak pernah hilang, daripada disebut sebagai sebuah taman. Ya! taman ini tidak terawat. Rumput-rumputnya telah tumbuh sehat, pohon-pohonnya pun hanya berdiri untuk bertahan hidup. Ia tidak benar-benar hidup. Taman itu tidak luas, tapi masih terlihat bekas-bekas kesombongan yang dulu pernah menjadi kebanggaannya yang kini hanya menjadi sebuah "hutan kecil" di tengah keindahan lainnya. Tidak ada banyak kursi disana, hanya ada satu kursi yang sudah rusak. Dibelakang kursi ini, pepohonan yang merapat erat seolah-olah ingin menjadi sandaran kursi, menggantikan sandarannya yang sudah tidak ada lagi. Atau mungkin pepohonan ini mencoba melindunginya dari sengatan matahari yang semakin menyakiti dan mungkin juga sekaligus ingin melindungi nya hujan yang telah menjadi siluman, atau dari angin yang sekarang sudah angkuh. Beberapa meter di depan kursi rusak itu, ada sebuah danau kecil, jernih airnya, namun sesungguhnya ia bisa lebih jernih lagi, hanya saja....
Ya begitulah!
Taman ini punya nama, tapi mungkin orang-orang sudah lupa. Itu terlihat dari papan nama yang tergeletak tidak jauh dari kursi rusak itu berada, yang telah ditimbuni oleh daun-daun kering dan lumut hijau yang mantap menyetubuhinya. 
Di kursi itu, dia telah duduk dengan nyaman memangku laptopnya. Dia sedang menuliskan sesuatu padanya. Sesekali jemarinya berhenti, kemudian dia memandang ke arah danau kecil yang malang, lalu kemudian kembali menyelam kedalam cairan-cairan otak, bermain-main, lalu muncul lagi ke permukaan, hanya untuk sejenak mengambil nafas. Tidak ada yang dibawanya selain laptop dan sebotol minuman hangat. Dia benar-benar menikmati suasana taman saat ini. Lihat, dia kembali lagi ke permukaan, tapi kali ini dengan raut muka yang suram. Dia mengambil nafas dalam-dalam kemudian kembali menulis;

"Tadi malam aku bermimpi aneh lagi, dear Corsa!
Mimpi yang benar-benar membuatku terus berpikir hari ini. Bagaimana tidak, mimpiku itu adalah aku menjadi seseorang yang sangat berbeda, sangat lain dari aku yang ini, diriku yang aku kenal selama ini. Aku menjadi orang yang.... 
entahlah, mungkin seperti taman ini. Yaa.. benar! seperti taman ini. Didalam mimpiku, aku adalah seseorang yang harus terus berjuang untuk sesuatu, yang bahkan tidak aku tahu apakah aku harus memperjuangkannya atau tidak. Aku seperti orang yang berguna, tapi sebenarnya tidak. Seperti ingin mencoba meneriakkan sesuatu kepada orang banyak, namun hanya samar-samar kedengarannya.  Di mimpiku itu, aku bernama Noan. Aku adalah seorang pekerja ide. Aku harus memberikan ide-ide untuk usaha yang akan dijalankan orang lain dengan bayaran yang belum aku tahu. Sedangkan orang-orang dengan ide ku itu, aku yakin, maksudku, Noan yakin, akan mendapatkan keuntungan besar, jika pun tidak, orang itu pasti menjadi terkenal. Aku sedikit mengeluh, tapi tetap merasa nyaman, tapi aku terlihat tidak nyaman. Aku benar-benar tidak yakin".

"Aku hanya terus-menerus (mencoba) menikmati pekerjaan itu. Mencoba membanggakan diriku dengan berkata bahwa akulah otak dibalik kesuksesan mereka, tapi tidak! bukan tidak ada yang percaya, eh, aku tidak tau ada yang percaya atau tidak. Yang aku tahu, tidak ada yang mendengar. Karena sangat jelas, dibalik kesuksesan orang itu, pasti dukungan yang diberikan padanya sangat kuat. Tapi pasti bukan aku. Dan, aku masih ingat, bagaimana di mimpiku itu, aku benar-benar tidak memikirkan masa depanku. Aku hanya kembali bekerja dengan kesenanganku, dengan penghasilan tak seberapa, tertawa setiap harinya, berpura-pura tidak terjadi apa-apa dalam hidupku, lebih banyak menghabiskan waktu , berkelakar bersama teman-teman ku, minum kopi dan merokok, dibandingkan  bersama kekasih ku,. Kekasih yang telah memikirkan 10 langkahnya kedepan nanti. Aku hanya terlihat sebagai orang yang hanya mencoba bertahan hidup daripada menikmati hidup itu sendiri. Menjijikan! Itu bukan aku, wahai taman, wahai danau, wahai rumput, wahai pepohonan! Aku adalah orang yang berfikir ke depan!"

Dia lalu berhenti, sepertinya kali ini dia marah. Dia marah pada mimpi anehnya. Dia kembali memandangi danau malang itu kemudian menoleh ke langit dan menghela sedikit nafasnya, lalu menulis;

"Jika aku harus menyombongkan diri sedikit, semuanya telah aku punya! Pekerjaanku sangat jelas! Aku adalah orang kepercayaan no.1 di perusahaanku. Itu yang dikatakan atasanku padaku. Jelas aku bukan Noan! bukan!. Aku sangat menikmati hidup ini! aku terus bekerja setiap harinya. Yaa, tentu! kamu juga sangat berjasa laptop kesayanganku. seperti kamu tahu, kita jarang sekali istirahat. Dan sekarang aku memikirkan masa depanku, kerajaanku kelak. Jelas aku bukan Noan! bukan!.
 Saat ini hanya satu, bukan, hanya dua hal yang tidak aku miliki, yaitu teman dan seorang kekasih. Hanya itu saja !!"


24122006
Neil @ Trojanpark

Thursday, 19 November 2009

Monolog

Sekarang permainan apa lagi yang akan kamu mainkan?

Aku ingin memainkan sebuah permainan, dimana aku akan membuatmu jadi tidak berkutik dan mengakui kekalahanmu. Lalu aku akan tersenyum dan berkata pada diri ku sendiri; "aku menang!"

Hahaha, tak semudah itu. Coba saja. Satu hal yang perlu kamu ingat, ini bukanlah tentang kemenangan, ini adalah tentang kesempatan. Dan aku tidak akan memberikanmu satu pun kesempatan.

Oh ya?! Aku tak percaya. Lihat saja nanti.

Oke, Aku tunggu.

Yang aku perlukan hanya sebuah kesabaran penuh hingga akhirnya kamupun aku dapatkan.

Itulah masalah mu. Kamu tidak mempunyai kesabaran itu. Dan aku lebih jeli menilai situasinya.

Bagaimana jika kita coba saja?

Dengan senang hati.


Dan permainan petak umpet pun dimulai...




Tuesday, 17 November 2009

BERNAFAS LEGA

.............

Lalu saya menempelkan jari telunjuk ke dahi, sambil berkata, "mungkin sekiranya sudah saatnya buat anda untuk menggunakan ini. Akan lebih baik bagi dia, jika anda memberikannya semangat, mengajaknya berkeliling kota, atau sekedar melepas jenuh di kafe. bukan dengan mencarikannya kambing hitam, agar anda pun puas melampiaskan kekesalan anda. hmm?!"

.............

kadang saya merasa bersyukur menjadi lebih TUA daripada kalian. karena dengannya, saya bisa berjalan lebih dahulu, saya menangis lebih dahulu dan saya berfikir lebih dahulu. Lalu kalian pun akan menertawakannya, yaa, TUA. Sampai suatu saat kalian tersadar bahwa TUA itu akan menjadi bagian dari kalian. Tapi saya tidak khawatir, karena saya akan menjadi lebih TUA, dan masih tetap diatas kalian, masih tetap menganggap kalian kecil, tidak dewasa!. Dan saya akan tetap berhak meremehkan kalian, menjadikan kalian permainan kata-kata kotor. Tapi sayang nya kalian tidak akan bisa membalasnya, karena saya terlalu sempurna. Lalu kalian menunggu hingga saatnya kalian mulai lebih TUA agar bisa berhadapan lagi dengan saya, tapi lagi-lagi kalian masih lupa, saya telah renta, kemudian mati, lalu digerogoti oleh cacing-cacing tanah dan lenyap ditelan bumi. Jadi bagaimana bisa kalian mecoba mencari lagi perkara dengan saya? karena saya berada jauh di bawah tempat kalian berdiri menatap batu nisan saya, lalu memaki dengan sempurna. Tapi kalian tidak akan menemukan kepuasan, karena saya tidak bereaksi, tidak bernyawa, tenang.

Jadi, maafkan, saya memang lebih benar dari anda ...

Saturday, 31 January 2009

Gelora Bung Karno Stadium

Tanggal 28 januari kemaren gue pergi bareng anak-anak kosan ke jakarta buat nonton Indonesia vs Australia.
sampe di senayan, langsung parkir di PS, lari ke stadion, buru-buru beli tiket takut keabisan. 50ribu ga jadi masalah lah buat pertandingan yang bakal banyak golnya.

sebelum ceritanya lanjut, gue ada cerita soal latar belakang gue ikut ke jakarta buat nonton pertandingan ini.
gue ga apal pemain indonesia, kecuali yang terkenal aja, entah terkenal karena apanya. Dan gue termasuk yang biasa aja sama perkembangan sepakbola di indonesia. Soal Timnas, gue lumayan sering nonton di tv. Banyak pertandingan indonesia yang gue tonton, dan gue tau (nebak mungkin.red) bakal kalah, tapi tetep gue tonton, dan nikmatin tontonan itu. dan gue juga ternyata mau ga mau harus mengakui kalo negara gue harus gue dukung dan jangan sampe kalah! tapi ya, kalah lagi atau seri lagi, dan akhirnya ngeluh lagi: "kenapa gue nonton tadi, percuma, wong pasti kalah!"

tapi ya gitu aja terus!
diulangi dan terus diulangi,,

balik lagi,,
jam 19.00 wib gue masuk stadion.Pertandingannya belum mulai.
pas udah jam 7 lewat 20 menit, pemain mulai masuk lapangan. Temen-temen sesama penonton pada semangat pas nama-nama pemain starting line up indonesia dibacain, dan teriak "hooooooo!" ke pemain australia. Khas tuan rumah!
gue pun ikut tenggelam sama semangat itu,,
gue ikut teriak teriak,,
"ayo menang lah indonesia, sekali aja!. gue udah dateng jauh2 masa ga menang!"

dan yang membuat gue merinding adalah pas lagu indonesia raya dinyanyiin!
dan para suporter termasuk gue, ikut nyanyi. dan nyanyinya ga maen-maen! lebih serius daripada anak sekolah pas upacara bendera!!
di sebelah gue ada bapak-bapak yang bawa anak cewenya sampe pada nangis saking terharunya mungkin. gue ga tau. tapi yang jelas, lagu itu bikin gue pribadi jadi berpikir untuk harus kerahin semua tenaga dan teriakan gue buat semangatin indonesia.

Sepanjang pertandingan kita teriak-teriak "Indonesia!" sampe cape!
atau nyanyiin yel-yel,,
gue juga lihat spanduk tulisannya; "born to life for indonesia, life to die for indonesia".
gue ga permasalahin bahasanya. tapi gue ngerti satu hal bahwa bagaimanapun loe menyangkal tentang indonesia, loe bakal tetap mendukung indonesia.

seperti yang udah diketahui, indonesia cuma bisa seri lawan australia (0-0), padahal sebagai tuan rumah dan 'mumpung' australia ga full team, harusnya bisa menang.
pertandingan mereka bagus, dan gue menghargai usaha mereka buat indonesia.

pengalaman yang gue dapet adalah; harus rasain sendiri gimana suasana di stadion Gelora Bung Karno, baru bisa kasih pendapat soal sepakbola indonesia! Orang bilang mending nonton di TV daripada di Stadion. salah besar! karena menurut gue, ga akan bisa ngerasain semangat timnas kalo nonton di TV.

Saturday, 29 November 2008

Aku dan Bahasa

Bahasa merupakan salah satu media yang sangat penting bagi manusia untuk berinteraksi dengan orang lain dimana kita bisa mengungkapkan segala sesuatu, baik yang ada dalam pikiran ataupun hati kita. Setiap orang berhak, perlu, dan bisa mengungkapkan perasaan marah, kesal, rindu, cinta dan lain sebagainya tepat pada orang yang dimaksud dengan menggunakan bahasa melalui berbagai macam media. Dengan bahasa, orang dapat mengirimkan pesan damai ataupun pesan untuk berperang. Secara sadar atau tidak sadar, kebutuhan manusia akan berbahasa sama seperti kebutuhan manusia terhadap makanan dan minuman, karena manusia yang pada dasarnya memerlukan orang lain dalam hidupnya tidak akan bisa bertahan untuk terus diam.

Bagi saya, bahasa cukup menyenangkan. Dengan bahasa selain saya dapat menumpahkan segala sesuatu yang saya pikirkan atau rasakan melalui ucapan atau tulisan, saya juga dapat bermain-main dengan bahasa. Seperti bermain sudoku, saya harus menempatkan satu kata dimana kata lain bisa masuk dan terhubung menjadi sebuah kalimat sehingga lawan bicara menjadi mengerti atau malah bingung. Mungkin aneh, karena justru bahasa diciptakan untuk berkomunikasi agar orang menjadi mengerti. Tapi bagi saya membuat orang bingung juga termasuk salah satu cara dalam berkomunikasi. Kebingungan membutuhkan jawaban, dan untuk menemukan jawaban diperlukan banyak pertanyaan, pemikiran, dan perdebatan. Dengan melakukan hal tersebut otomatis kita telah melakukan komunikasi, dengan menggunakan bahasa tentunya melalui banyak cara.

Sebagai media untuk berkomunikasi, bahasa mempunyai banyak bentuk, yaitu bahasa lisan, bahasa tulisan, bahasa tubuh, simbol, dan sebagainya. Bentuk dan arti bahasa pada setiap daerah atau negara punya ciri khas tersendiri sehingga kita perlu mempelajarinya agar kita dapat mengetahui, dan memahaminya. Bagi kita orang Indonesia, tentu bahasa indonesia adalah bahasa yang kita pakai dalam berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain, yang tentunya juga orang indonesia atau bukan orang indonesia yang dapat berbahasa indonesia.

Sejarah bahasa indonesia dari awal pembentukan (bentuk baku.red) hingga sekarang telah mengalami banyak perubahan dan mungkin bagi pengamat bahasa hal tersebut sangat memprihatinkan karena bahasa indonesia telah mengarah pada kehancuran. Mungkin saya terlalu membesar-besarkan atau terlalu mendramatisir situasinya. Tetapi, pengalaman yang saya dapatkan sebagai mahasiswa mengenai bahasa indonesia adalah bahasa indonesia hanya cukup sebagai media untuk berkomunikasi dengan orang lain. Saya menggaris-bawahi “hanya cukup”, tidak lebih dan tidak kurang. Di dalam dunia kampus, terutama fakultas sastra, berkomunikasi melalui bahasa Indonesia dengan benar atau salah tidak lagi menjadi penting, karena yang penting adalah bagaimana mahasiswa dapat dengan benar mengucapkan atau menulis bahasa atau sastra asing yang sedang dipelajari mungkin kecuali sastra Indonesia.

Di masa sekarang, tidak banyak yang bias berbahasa Indonesia dengan baik dan benar termasuk saya. Sebelum menulis esai ini, saya banyak bertanya kepada beberapa teman dari fakultas sastra tentang bahasa Indonesia. Dari hasil survey yang saya lakukan, banyak yang menjawab bahwa bahasa Indonesia yang baku itu terlalu kaku dan hanya dapat digunakan dalam situasi formal. Dalam situasi informal, menggunakan bahasa Indonesia yang baku akan sangat mengurangi suasana informal tersebut. Sehingga bahasa Indonesia yang tidak bakulah yang dapat mewakili emosi dan suasana informal ini. Bahasa Indonesia yang tidak baku ini berhubungan dengan bahasa asing terutama bahasa inggris, yaitu bahasa yang dapat mewakili perasaan atau pikiran tanpa harus terlalu serius. Bahasa inggris dapat digunakan dalam situasi serius ataupun tidak serius. Inilah jawaban yang diberikan oleh teman-teman saya.

Bagi orang Indonesia, menggunaan bahasa Indonesia adalah sebuah trend. Dulu, saat muncul sebuah film AADC (Ada Apa Dengan Cinta.red) tiba-tiba hampir semua orang muda indonesia mulai mencoba mempelajari sastra, mulai mencari-cari buku AKUnya Sumandjaya. Semua ingin seperti Rangga (Tokoh dalam film itu.red) yang cool (dingin/kalem/keren.red), yang senang menyendiri, senang membaca karya sastra, romantis, ganteng dsb. Tetapi setelah film itu tidak lagi menjadi sebuah acuan tren karena kemudian banyak bermunculan film-film lain yang bertemakan cinta yang lebih baru, keadaan tadi tidak lagi terlihat.

Sebuah tren lah yang mengatur segala tingkah laku orang Indonesia. Masyarakat indonesia sangat senang dengan mode, kita sangat tergiur untuk menikmati sesuatu yang baru walaupun tidak pada tempatnya. Mungkin banyak yang menyadari hal ini, tapi sangat disayangkan, kita malah tidak memanfaatkan hal ini. Contohnya: sebuah stasiun radio swasta di bandung, memasang plang bertuliskan Slow Down, yang akhirnya menjadi tren. Outlet-outlet memasang spanduk besar dengan tulisan yang besar pula; BUY 1, GET 1 FREE, dsb.

Pertanyaannya, mengapa bahasa inggris yang kita pelajari tidak lebih dari 2 jam di sekolah dapat membuat kita mencintai bahasa asing ini? Saya mulai mencari jawabannya dan jawaban yang saya temukan adalah media massa. Pengaruh media massa seperti koran dan televise membuat kita sangat terpengaruh dengan hal-hal yang kebarat-baratan. Saya jadi teringat sebuah lagu dari Jamrud, judulnya Asal British. Jika kita menyimak lirik lagu tersebut, kita hanya bisa mengangguk mengiyakan karena memang begitu kenyataannya. Masalahnya lagu itu dibuat sudah lama, sekitar tahun 2000an dan sampai sekarang situasinya masih seperti itu.

Masyarakat indonesia yang konsumtif dapat menerima begitu saja sesuatu yang berbau kekinian. Kekinian yang saya maksud adalah modernisasi. Masyarakat indonesia sangat menerima hal-hal tersebut, termasuk saya. Kemampuan saya dalam berbahasa, terutama dalam berbahasa indonesia, tidaklah baik atau bagus. Tetapi sebagai orang indonesia, saya sadar dan cukup sedih dengan keadaan ini. Saya sadar penggunaan bahasa indonesia sudah seharusnya diperbaiki karena bahasa indonesia adalah salah satu keunikan bangsa ini. Kesenangan akan sebuah tren atau mode membuat kita sebagai orang Indonesia, kehilangan jati diri. Tidak ada lagi keunikan sekaligus kebaggaan yang bisa kita tunjukkan dengan kepala tegak.

Suatu hari saya datang ke Himpunan Mahasiswa Sastra Jerman, banyak rekan-rekan sedang berkumpul. Ada yang sedang melucu, ada yang sedang memasak, ada yang nongkrong, ada yang bersih-bersih. Kemudian saya ikut duduk nongkrong dan mendengarkan pembicaraan rekan-rekan. Ternyata tema pembicaraan tersebut adalah tentang acara JEMBATAN 2008, sebuah acara malam keakraban untuk mahasiswa sastra jerman. Ada salah seorang rekan, yang dengan semangat bilang akan ikut meramaikan acara tersebut dengan membacakan puisi karya dia sendiri. Mungkin tidak mengherankan, tapi sangat mengherankan bagi saya karena rekan ini adalah mahasiswa angkatan muda, angkatan 2007. Bukan menyepelekan justru sebaliknya. Saya kaget dan heran tapi juga senang karena ternyata di jaman sekarang, masih ada anak muda yang senang menulis puisi. Sebuah hobi yang sudah jarang dilakukan oleh orang muda saat ini. Jadi ternyata masih banyak yang peduli dengan bahasa dan sastra Indonesia.

Beberapa hari yang lalu, saya pergi ke salah satu warnet di jatinangor, dan membuka situs friendster.com. Saya membuka profil salah satu rekan saya dan kembali dikagetkan oleh tulisan dia di dalam blognya. Dia membuat sebuah cerita tentang perjalanan seorang tokoh mengelilingi pulau Kalimantan dan akhirnya si tokoh tersebut meninggal. Cerita itu sangat bagus dan ditulis dalam bahasa Indonesia yang ringan dan enak untuk dibaca, setidaknya itu menurut saya. Yang membuat saya heran dan kaget adalah rekan saya ini lahir dan besar di Chiang Mai, Thailand kemudian tinggal di Indonesia, tepatnya di Rantau, Kalimantan Selatan saat berumur 17 tahun.

Kesimpulan yang bisa saya saya ambil adalah bahasa itu menarik, tapi mungkin tidak banyak orang yang menyadari hal itu. Bisa dibayangkan jika bahasa, misalnya bahasa indonesia diklaim oleh seseorang sehingga setiap orang yang berbahasa indonesia harus membayar setiap kata yang keluar! Orang mungkin tidak atau belum mebayangkan begitu susahnya kita tanpa bahasa dan pada saat kita mempunyai bahasa yang telah dibakukan yang menjadi kebanggaan, yang telah dikukuhkan dalam sumpah pemuda sebagai bahasa persatuan, hanya kita biarkan rusak tanpa memperbaikinya atau mungkin tidak menganggap itu rusak sehingga membiarkannya. Saya ingin memotivasi diri saya dan mungkin pembaca untuk terus menggunakan bahasa indonesia, dan berbahasalah dengan baik dan benar karena bahasa itu menyenangkan.


Salam,
DHV Yeriko S
H1H 01 010
----------------------------------------------------------Tribute to: Negara Kesatuan Republik Indonesia

Wednesday, 19 November 2008

Tadi gue liat berita tengah malam

Tadi gue liat berita tengah malam.
Isi beritanya tentang banjir dan kebanjiran. Angin ribut. pohon tumbang dll.

ada satu berita, katanya: di majalaya kabupaten Bandung, banjir seperti ini sudah sering terjadi. dan pemerintah diharapkan mulai mengambil tindakan.

kepala gue langsung pening!
kenapa pula gue tonton nih berita..

kalo udah sering terjadi, plus udah tau sekarang musim ujan, terus?!
pemerintah juga ga kasian ma masyarakatnya?
media juga membesar-besarkan!

trus ada satu lagi berita tentang anak sekolah bawa senjata tajam ke sekolah buat tawuran di bogor .

dah enak-enak bisa sekolah.
banyak yang pengen sekolah tapi ga bisa!

dan satu hal tentang sekolah.
Sekolah itu bukan tentang pintar atau bodoh!
sekolah itu bukan tentang ranking 1 atau ranking 40 dari 40 siswa.
bukan tentang nilai 10 atau 100,,

sekolah itu tentang membuka mata selebar-lebarnya, membuka pikiran seluas-luasnya!

trus beritanya abis. trus muncul iklan suatu produk yang menawarkan banyak hadiah. hadiahnya: uang jutaan rupiah. mobil BMW, motor, dan masih banyak lagi yang lainnya.

gue punya ide!!!

gimana kalo semua hadiah itu di ganti cuma dengan 2 macam hadiah:

hadiah pertama untuk 1000 orang: biaya sekolah
hadiah kedua untuk 1000 orang : pekerjaan tetap


kenapa sih di indonesia ini diliatin banget bedanya orang kaya sama orang miskin?
kenapa sih diliatin banget bedanya pinter sama bodoh?

Pagi

Saya pikir saya suka saat pagi hari menjelang. Saat dimana kabut tebal mulai menipis. Saat sinar matahari mulai mencoba menerobos. Rumput basah karena embun. suara kokok ayam jantan. kicau burung.
Udara sejuk pagi yang membuat pikiran menjadi lebih segar.
Saat dimana wajah-wajah bangun tidur orang-orang. Saat dimana sebuah senyum tulus pertama yang hadir di muka bumi. Saat dimana setiap rencana disusun dengan begitu rapinya. saat dimana harapan kembali datang. saat dimana tubuh memiliki energinya kembali.

Tapi sayangnya saya jarang bangun pagi. Malah mungkin lebih sering belum tidur saat itu. Saat dimana mata mulai perih dan lelah lalu mengantuk kemudian memutuskan untuk tidur.

Tapi jika ada kesempatan untuk bangun di pagi hari, saya tidak akan menyia-nyiakannya.
Saya akan awali hari dengan segelas minuman hangat plus rokok tentunya.
Saya akan membuka pintu kamar dan jendela saya kemudian saya akan membaca novel yang sampai sekarang belum habis saya baca. Novel karya Salman Rushdi "The Satanic Verse". Setelah beberapa halaman saya baca, saya akan mulai berpikir untuk melanjutkannya besok saja karena saya tidak ingin kehilangan momen bersejarah ini untuk membaca buku saja.
Kemudian saya berpikir untuk melakukan sebuah pekerjaan yang cukup rumit.
Pekerjaan itu adalah mempertahankan mimpi, memupuk masa depan, lalu merapikan setiap rencana-rencana yang telah saya susun namun berantakan lagi.
Seltelah hal tersebut diatas beres saya lakukan. Saya akan bermain dengan otak saya. Sebuah bentuk permainan yang bisa kita mulai tapi tidak bisa kita hentikan. Pada permainan ini, saya hanya tinggal memilih sebuah ide mungkin lebih tepatnya sebuah kata.
Permainan ini berlangsung cukup lama dan sangat seru. Jadi mungkin saat permainan ini berakhir, matahari sudah ada diatas kepala saya.

Dan tidak banyak yang bisa dilakukan pada saat-saat seperti ini, mungkin hanya bisa melakukan sesuatu yang harus dilakukan namun tidak menyenangkan. Jadi melakukannya sambil menggerutu.

Ok, bagian ini tidak penting. Merusak pikiran positif saya terhadap pagi. Jadi tidak saya lanjutkan.

Kesimpulannya, pagi itu indah, namun saya jarang melihat keindahan itu.